LISTRIK BERKUALITAS

April 11, 2009 at 2:58 am Tinggalkan komentar

“Listrik Sialaaaan!!!”,… Demikian umpat pak Amat pemilik usaha printing kecil-kecilan di rumahnya. Betapa tidak, hasil pekerjaan yang sudah siap naik cetak menjadi tertunda akibat listri padam.

Tidak jauh dari rumah Pak Amat sekelompok dosen juga mengungkapkan kejengkelannya akibat listrik padam. Akibat mati lampu, proposal mereka yang tengah dikejar deadline manjadi terhambat.

Di berbagai tempat umpatan-umpatan sejenis bahkan lebih keras lagi terlontar dari mulut anak-anak yang lagi bermain PS, ibu-ibu yang menonton infotaintment, mahasiswa yang lagi nge-net, pengusaha yang lagi berproduksi, para pegawai yang sedang membuat dokumen, pembantu yang lagi mencuci, dokter-dokter dan dukun yang lagi memberikan treatment pada pasiennya, pengusaha travel yang lagi melayani pelanggannya, para penunggak listrik yang lagi ngantri di counter online,  dan banyak lagi lainnya.

Mulai dari anak-anak sampai orang tua, mulai dari usaha kecil sampai industri besar, mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi, mulai dari Puskesmas sampai rumah sakit, mulai dari kantor lurah sampai kantor gubernur dan banyak lagi lainnya terkena dampak pemadaman listrik.

Sebagai akibat dari listrik padam ini emosi meningkat, kehilangan pelanggan, kehilangan peluang, tertundanya pekerjaan, tertundanya pelayanan, tertundanya produksi dan berbagai keperluan lainnya. Ya, listrik memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia saat ini.

Pemerintah melalui PLN telah berusaha agar listrik dapat dinikmati oleh seluruh rakyat. Rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang telah disusun. Berbagai skenario prediksi telah ditawarkan. Infrastruktur terus dikembangkan. Namun, sepertinya listrik masih tidak bisa juga meningkat kualitas dan aksesabilitas pelayanannya. Listrik masih tidak bisa dinikmati sebagian penduduk perkotaan. Anda mungkin pernah berhadapan dengan sulitnya memasang listrik untuk rumah anda.

Kalau di perkotaan saja aksesabilitas dan kualitas pelayanan listrik masih dapat rapot merah, bagaimana di desa???. Saat ini paling tidak 45% dari seluruh desa di Indonesia yang belum dialiri listrik, atau bila berdasarkan jumlah Kepala Keluarga, ada 37%  dari jumlah seluruh KK di Indonesia yang belum memperoleh pelayanan PLN. Dengan umur negara yang sudah mulai tua ini (64 tahun) sangat tidak wajar bila sedemikian banyak warga negara yang belum menikmati listrik. Mungkin sebagian dari mereka adalah anak cucu dari para pejuang kemerdekaan negara ini.

Permasalahan listrik ini tidak terpisahkan pada lemahnya sistem manajemen yang masih dihadapi oleh PLN. Mulai dari perkara biaya produksi, biaya perawatan, biaya pendistribusian, biaya pelayanan dan berbagai macam intrik yang terjadi secara internal. Namun apapun masalahnya, PLN tetap berada di posisi lebih tinggi dari konsumennya. Anda mengalami kerugian ratusan ribu bahkan jutaan rupiah karena pemadaman listrik tidak akan mendapat ganti rugi dari PLN. Tapi anda jangan coba-coba terlambat membayar, setidak-tidaknya ada denda yang harus dibayar, atau bahkan aliran listrik ke rumah anda bisa di putus.

Masalah listrik ini harus segera dibenahi oleh pemerintah secara terpadu. Pemerintah harus bisa membuat sistem monitoring dan evaluasi ketenagalistrikan yang tidak hanya melibatkan orang-orang PLN saja. Pengembangan ketenagalistrikan ini haruslah memiliki landasan yang jelas, yakni masyarakat harus bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan listrik secara kuantitas dan kualitas yang terjamin.

Pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan teknologi yang dibeli dari luar. Hal ini menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Kembangkanlah upaya-upaya strategis untuk mengembangkan teknologi berbasis potensi lokal. Teknologi yang bisa dijalankan, dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat. Ajarkanlah masyarakat untuk memperoleh listrik dari potensi apa yang dimilikinya, khususnya untuk masyarakat yang jauh dari jaringan PLN, seperti di daerah kepulauan, di pedalaman dan tempat-tempat terisolir lainnya.

Demikian pula pada sistem produksinya. Jangan sekali-sekali membuat masyarakat tidak mampu memperoleh listrik karena mahalnya biaya listrik. Negeri ini kaya, tetapi apa gunanya kekayaan alam ini  bila tidak bisa mensejahterakan masyarakat. Bagaimana bisa sejahtera, kalau teknologi yang membutuhkan listrik tidak bisa dipakai oleh masyarakat.

Sistem produksi juga harus melihat aspek ekonomis jangka panjang. Kalau lebih ekonomis membangun pembangkit di daerah penghasil bahan bakar, kenapa harus membangun pembangkit di Pulau Jawa. Dalam kaitannya dengan perpindahan penduduk, yang benar adalah, penduduk ini diarahkan untuk berkembang pesat di daerah yang energi listriknya terjamin, bukannya malah berkembang pesat ditempat yang energi listriknya tidak terjamin yang berakibat kita terus saja membangun pembangkit di pusat beban dan menarik energi listrik yang besar dari daerah lain untuk terus menghidupi daerah pusat beban. Maka, pemerintah seharusnya mempromosikan daerah-daerah yang terjamin energinya ini kepada pelaku usaha dan masyarakat, dan memberikan garansi bahwa listrik di daerah tersebut tidak akan kekurangan.

Demikian pula, Pemerintah harus bisa mensinergikan antara pengembangan wilayah dengan penyediaan energi listriknya. Mau mengembangkan kekuatan ekonomi harus melihat pada potensi energinya. Kalau tidak mampu menyediakan energinya, yah mimpi sajalah ekonomi bisa berkembang.

Pengembangan jaringan listrik juga harus memandang sisi estetika. Terkadang saya pusing melihat kabel-kabel listrik berjuntai dan berjalin tidak keruan di sekitar rumah saya. Ada yang bergulung di pohon, ada yang jadi tempat merambat tanaman rambat, ada yang saling silang-menyilang di atas atap dan lain-lainnya.

Demikian pula dengan pelayanan. Letakan konsumen pada posisi yang seharusnya. Konsumen itu adalah pelanggan, dan pelanggan adalah raja. Jangan mentang-mentang PLN sebagai satu-satunya produsen listrik membuat PLN dan aparatnya menjadi congkak. Lihat aja tuh bagaimana pelanggan diperlakukan ketika mau masang listrik, di oper ke sana di oper kemari kayak bola pingpong.

Listrik ini adalah hak rakyat. Negara harus bisa menjamin bahwa rakyat bisa memperoleh pelayanan listrik yang adil dan merata baik secara kuantitas maupun kualitas. Kalau tidak bisa mengurusi listrik, apalagi mau mengurus negara. Pertanyaannya, adakah pemimpin yang mengerti masalah listrik ini?.

Entry filed under: Teknologi. Tags: , , .

ATAS NAMA POLITIK ANALOGI KONSEP KEWIRAUSAHAAN DENGAN PERMAINAN LEMPAR TELOR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
free counters

Klik tertinggi

Cluster Map

RSS Top Science News

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: