ATAS NAMA POLITIK

April 5, 2009 at 1:27 am Tinggalkan komentar

“Halo, Mr. A, Apa khabar hari ini???”, demikian pertanyaan pembuka dari seorang Caleg kepada salah seorang sahabatnya sehari menjelang Pemilu via HP.
“Baik Pak C, gimana perkembangannya ??”, jawab Mr. A
“Sudah semakin bagus di tempat saya, gimana kondisi di tempat Bapak ??”, tanya Mr.C.
“Siap Pak, semua konstituen di bawah saya yang jumlahnya 100 ini sudah siap semua untuk mendukung dan mencoblos Bapak besok, dan SAYA SENDIRI yang akan mengawasi mereka, pokoknya percayalah kepada saya Pak, semuanya beres !!!..”,jawab Mr.A dengan yakinnya melalui HP model terbarunya.
“OK, kalau begitu…saya percayakan sepenuhnya pada Pak Mr. A. Ada lagi yang perlu saya siapkan ???”, tanya Pak C.
“Tidak Pak. Kita telah bersahabat sedari kecil. Bagi saya, apa yang saya lakukan ini merupakan sebuah kehormatan. Pokoknya Bapak tenang saja, semuanya aman dan terkendali!”, Jawab Mr. A.
“OK, kalau begitu terima kasih pak Mr.A, assalamualaikum..”
“Wa’alaikum salam…”, Mr. A menutup telepon dengan kata salam dengan huruf ‘ainnya yang kental.

Tidak beberapa lama kemudian pintu rumah Mr.A diketok tamu..
“Oh, Pak D, silakan masuk…apa khabarnya ??…” sapa Mr.A dengan ramah…
“Tidak bagus. Saya dengar anda sudah menggalang kekuatan pula untuk Pak C, apa benar begitu???.” Jawab Pak D.
“Ah…tidak benar itu, jawab Mr.A, saya khan dari dulu hingga sekarang tetap pendukung setia Pak D saja”, Sambung Mr. A. “Demi Tuhan, hanya bapak yang menjadi pilihan konstituen saya yang jumlahnya 100 itu”, jelas Mr. A dengan mimik yang meyakinkan.
“Ok, kalau begitu. Saya tidak bisa lama, ini tolong bagikan kaos ini ke konstituen saya, dan ini uang Rp.10 juta untuk kau sebarkan besok pagi sebelum orang nyoblos. Tapi ingat, kalau anda membohongi saya, anda lihat siapa yang di mobil itu…”, ujar Pak D. sambil melambai ke pengawalnya yang berbadan besar dan bermuka seram…
“Orang itu, siap untuk melakukan apa saja, termasuk membunuh orang…hati-hati kalau anda membohongi saya…”, pungkas Pak D.
“Siap pak, siap Pak…saya laksanakan, dan Bapak tidak usah ragukan loyalitas saya…”, Jawab Mr.A dengan muka pucat.

Kisah di atas, hanyalah sepenggal kisah yang mungkin terjadi menjelang Pemilu tahun 2009. Banyak kisah sejenis, yang kejadianya hampir sama untuk semua jenis pemilihan yang ada di Indonesia. Mulai dari pemilihan Kepala Desa, Bupati, Walikota, hingga Presiden.
Kebohongan, money politics, pengkhianatan, black campaign, intimidasi dan seluruh jenis kekotoran lainnya bercampur baur menjadi satu demi kemenangan Politik.

Setelah proses pemilihan usai, bagi yang menang akan memikirkan cara bagaimana mengembalikan investasi yang ditanamkan sebelum pemilihan, sementara bagi yang kalah, ada yang menjadi hilang ingatan akibat dikhianati, dibohongi atau kehabisan harta.
Pernah saya ikuti suatu proses pemilihan yang melibatkan orang-orang elegan dan cerdik pandai yang saya kenal. Tetapi, pada akhirnya, tetap saja uang, iming-iming jabatan dan intimidasi jugalah yang menang.

Sepertinya tidak ada pintu buat yang tidak bermodal untuk menang.
Sepertinya tidak ada pintu buat yang jujur untuk menang.
Sepertinya tidak ada pintu bagi orang-orang yang tulus ingin menegakkan profesionalisme dan menempatkan the right man on the right place untuk menang.

Saya pernah berkonsultasi dengan beberapa kenalan yang saya tahu memiliki pengetahuan dan gelar yang tinggi tentang hal ini. Saya tanyakan, kenapa kebanyakan dari kita seperti kehilangan kecerdasan dalam memilih. Kenapa, orang-orang yang selama ini dekat dengan kita, akhirnya kemudian berkhianat hanya karena uang yang sedikit atau kepentingan sesaat. Kenapa, untuk menang kita harus menggunakan segala cara..Halal, Haram, Hantam. Bahkan kalau perlu membawa-bawa nama Tuhan untuk berbohong.
Ternyata jawabannya sama….
“Inilah politik. Politik itu memang seperti itu”, Demikian jawaban yang saya peroleh.

Saya bertanya kepada anda semua, apakah memang seperti itu politik di Indonesia???.
Atau apakah kita akan biarkan politik seperti itulah yang berkembang di Indonesia??
Atau apakah kita malah harus ikut berpolitik yang seperti itu di Indonesia???.

Definisi terakhir yang saya bisa simpulkan tentang politik di Indonesia, yang tentu saja akan berbeda dengan yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu : Politik adalah proses menuju kemenangan dengan segala cara. Anda boleh menyogok, anda boleh berbohong, anda boleh memfitnah, anda boleh berkhianat, anda boleh mengintimidasi orang ataupun apapun yang lebih kejam dari itu atas nama politik. Ya, atas nama politik…inilah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Kalau kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu, tunggulah kehancurannya.

Bengkulu, 5 April 2009. Dibuat dalam rangka menghadapi PEMILU 9 April 2009

Entry filed under: Politik. Tags: , .

Hello world! LISTRIK BERKUALITAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
free counters

Klik tertinggi

Cluster Map

RSS Top Science News

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: